Senin, 02 Maret 2009

TERMEHEK-MEHEK; sebuah pembodohan Broadcast



Pada harian Lampung Post edisi Sabtu, 28 feprbuari 2009, di halaman Opini. Penulis mendapatkan sebuah topik tentang profesionalitas kepolisian. Dalam tulisan tersebut, saudara Ahmad Rajafi, mengatakan tentang betapa polisi masih harus meningkatkan profesionalisme mereka dalam mengungkap kasus dan tabir-tabir kejahatan. Ahmad mengambil contoh betapa sulitnya polisi membuka tabir prostitusi terselubung. Polisi dianggap kalah langkah dengan sebuah tayangan reality show (atau pembuat acaranya lebih senang menyebut jenis tayangan ini dengan kategori reality drama) yang sangat top saat ini, Termehek-mehek.

Dalam tulisannya, saudara Ahmad rajafi membandingkan langkah tim “termehek-mehek” yang dapat menembus sebuah sindikat prostitusi dengan sangat mudah. Hal ini mengindikasikan satu fakta, setidaknya tafsiran versi penulis, betapa fenomena prostitusi tersetruktur sangat kasat mata namun tidak terlacak.

Penulis, secara pribadi, setuju dengan maksud, tujuan, dan pesan, yang ingin disampaikan oleh saudara Ahmad rajafi. Namun sayangnya, menggunakan keberhasilan program “termehek-mehek” sebagai ilustrasi perbandingan, menurut penulis, terasa sangat naïf.

Menurut penulis, secara kualitas acara, “Termehek-mehek” tidak lebih mencerdasakan daripada sinetron. Tayangan ini bukanlah termasuk dalam kategori tayangan yang mendidik. Bahkan penulis berani mengatakan, bahwa “termehek-mehek” adalah sebuah tayangan unreality. Sebuah pembodohan kepada pemirsa televisi. Membuat sebuah tayangan yang terkesan ‘seolah-olah nyata’ namun semuanya sudah dalam scenario.

“Termehek-mehek” , berdasarkan data dari Nielsen media research, adalah program reality drama terlaris saat ini. Ilustrasi dari humas Trans TV, Hadiansyah Lubis, menyebutkan share iklan untuk program ini dapat mencapai (sedikitnya) 600 juta rupiah. Bukan hanya itu, rating acara inipun termasuk paling tinggi dibanding program TV lainnya yang diputar pada jam yang sama. Sebagai sebuah program dengan rating dan share iklan yang tidak kecil, tuntutan untuk membuat setiap episodenya menjadi lebih menggigit jelas tidak bisa ditawar.

Nah, titik permasalahannya berada penciptaan “gigitan” dalam setiap episodenya. Secara tehnis, tidak masuk dalam logika penulis (yang kebetulan pernah menggarap beberapa film independent) bagaimana begitu rapinya volume suara antara si pengisi acara, client, dan objek yang didatangi oleh tim “Termehek-mehek”. Kalau memang ini adalah sebuah tipe tayangan yang “Just record all and wait what will happen”, suara objek (di acara ini disebut dengan istilah “target”) sama beningnya dengan suara host acara. Selain itu mungkinkah dalam setiap pencarian akan selalu terjadi kejadian-kejadian yang “bombastis”?.

Kejadian-kejadian “bombastis” hamper selalu terjadi dalam setiap pencarian di episode “termehek-mehek”. Entah itu berkelahi, pingsan, kejar-mengejar, perselisihan yang menyebabkan emosi tingi, masuk dalam kategori “bombastis” yang penulis maksud. Adegan , eh maaf, maksud penulis, kejadian-kejadian “bombastis” inilah yang membuat tayangan termehek-mehek selalu terlihat menarik dan seru. Alangkah beruntungnya tim produksi “termehek-mehek” kalau dalam setiap pencariannya selalu menemukan kejadian-kejadian tersebut. Hal-hal “bombastis” yang selalu terjadi dalam setiap episode tayangan ‘termehek-mehek” inilah yang kemudian menguatkan persepsi penulis bahwa tayangan ini bukanlah sebuah reality drama yang sebenarnya.

Kejadian dan pola produksi acara “termehek-mehek” ini bukanlah sebuah pola baru dalam dunia broadcast. Di Amerika Serikat, mbahnya dunia hiburan, sudah mengenal pola ini sejak 15 tahun yang lalu. Banyak moment yang dapat menjadi pionir, namun penulis akan mengambil sebuah kejadian paling besar, paling popular, tentang tayangan sejenis ‘termehek-mehek” yang membodohi hamper separuh rakyat Amerika.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1999. Saat itu, Amerika dihebohkan dengan sebuah film yang berjudul “Blair Witch Project”. Penyajian film fiksi berbudget rendah ini dibuat dengan gaya pendekatan documenter reality.

Dalam premis film, tertulis seolah-olah bahwa film ini adalah rekaman video tape tentang perjalanan 3 siswa yang hilang dalam sebuah bukit di kawasan Maryland, Amerika Serikat. Siswa tersebut melakukan perjalanan ke bukit tersebut untuk membuat dokumenter tentang legenda urban yang dikenal dengan sebutan “Blair Witch”. Ketiganya hilang, asad mereka tidak pernah dilakukan. Kaset video tape yang ditemukan tersebut, yang berisi tentang dokumentasi perjalanan mereka, inilah yang kemudian menjadi film “Blair witch project” tadi.

Premis film yang seolah-olah nyata ini terbukti manjur. Film tersebut menjadi film inie terlaris pada tahun 1999. Amerika heboh. Diadakanlah pencarian besar-besaran di bukit Maryland. Kisah tiga remaja tersebut menjadi buah bibir. Hingga akhirnya, didorong oleh rasa tanggung jawab moral, Miramax, perusahaan pembuat film ini membuat pengumuman bahwa “Blair witch project” adalah sebuah kisah fiksi yang digarap dengan gaya dan style yang lebih kreatif.. Metode dokumenter yang digunakan film ini dalam gaya penceritaan kemudian menjadi legenda tersendiri dalam dunia film independen.

Dari kasus “Blair witch Project” ini kita dapat bercermin, betapa sebuah pendekatan realitas dalam menggarap sebuah kisah fiksi dapat menjadi metode pengeruk keuntungan. Masyarakat yang percaya dengan “rekayasa kisah nyata” akan semakin tertarik untuk menyaksikan dan mengikuti sajian tersebut. Menurut penulis, inilah konsep yang dipakai dalam tayangan “termehek-mehek” dan berbagai tayangan relity show sejenis. Sebuah konsep usang yang justru di Amerika sudah tidak dipakai lagi karena sudah ketahuan polanya.

“Termehek-mehek” dibuat dengan gaya seperti itu. Pengambilan gambar yang seolah-olah menggunakan hidden camera. Pengeditan cara bercerita yang menggunakan struktur kronologis waktu. Dan yang paling penting, menggunakan orang-orang biasa dari kalangan kebanyakan sebagai “talent” acara. Semuanya sama persis dengan apa yang dilakukan oleh “Blair Witch Project”.

Apabila tidak segera diperbaiki, besar kemungkinan akan timbul keresahan-keresahan baru ala saudara Ahmad rajafi. Terus terang penulis tidak menutup mata dengan pola prostitusi terselubung yang ada di negeri ini. Memang hal-hal tersebut nyata dan menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat kita. Namun penulis juga yakin tim “termehek-mehek” tidak secanggih seperti yang dibayangkan Ahmad rajafi untuk dapat menembus jaringan tersebut. Melakukan apa yang polisi tidak dapat lakukan. Apa yang dilakukan “termehek-mehek” tidak lebih dari sekedar upaya menciptakan “efek bombastis demi sebuah tayangan yang menggigit” . Itu saja.

Di akhir tulisan, mungkin potongan ucapan Humas Trans Corp, Hadiansyah Lubis tentang tayangan “termehek-mehek” dalam seminar media di Bandar Lampung baru-baru ini dapat menjadi renungan. Saat itu ada seorang peserta yang menanyakan tentang keotentikan realitas tayangan “termehek-mehek”.

“Ya untuk kesimpulan apakan tayangan ini murni relity atau rekayasa kami serahkan kepada pemirsa yang menyaksikan. Toh sebuah tayangan TV juga dapat membuka perbedaan pendapat dan demokrasi.”

Nah lo!

Penulis adalah anggota ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN kota BANDAR LAMPUNG

No telephon: 0813 792 96897

Tidak ada komentar: